Rabu, 22 Juli 2015

Move to Wattpad

Dear Readers,

Due to some circumstances, I move this story to Wattpad.
Please find me on Wattpad by username FeKimi

There will be no update of Merchants of Death in this blogspot anymore.
And, if the story got its place on Wattpad, I will shutdown this blogspot permanently.

Apologize for this inconvenience
I hope you can follow me on Wattpad

Thank You

Best,

FeKimi

Kamis, 11 Desember 2014

Winter Hiatus

Dear Readers,

Dengan ini saya sampaikan bahwa Merchants of Death : School Game akan hiatus selama beberapa minggu.

Rencananya saya akan memposting chapter berikutnya pada pertengahan bulan Januari atau ketika saya sudah sembuh dari writer block, whichever is earlier.

Sekali lagi, untuk silent reader, saya tunggu kritik dan sarannya

Terima Kasih

School Game : Chapter 6

Burst

Dalam kegelapan Gaby meringkuk, menempelkan lututnya ke dadanya dan memencet-mencet tombol di telepon genggamnya. Ia berusaha mencari sinyal, tapi hasilnya nihil hingga akhirnya ia membanting telepon genggam itu dengan rasa frustasi yang memuncak. Gaby menyisir rambut panjangnya dengan tangan lalu menempelkan keningnya di lutut-nya. Ketika ia memejamkan mata, masih terbayang mayat Loly dan Resta yang terbaring penuh darah. Ia menggigit bibirnya dan bergidik jijik.
Pikirannya menerawang ketika ia menendang mayat Resta yang dianggapnya sudah membohongi dan menipunya. Namun, ia juga tak bisa menampikkan fakta bahwa Artha adalah minion-nya yang terbaik, yang selalu menuruti kemauannya tanpa mengeluh meskipun ia kesal setengah mati. Lalu ada Loly, yang manis dan bodoh, yang ia rekrut hanya agar Loly tidak lebih popular dari dirinya.
Mengingat mereka berdua sekarang sudah tak bernyawa, suatu perasaan aneh terbersit di dirinya. Terasa dingin dan sedikit menyakitkan. Gaby memejamkan matanya dan menggidikkan kepalanya. Mengapa ia menjadi melankolis seperti ini? Bukankah minion-minion bodoh seperti mereka bisa tergantikan oleh siapa saja? Sudah banyak gadis-gadis yang mengantri untuk posisi mereka!
Cahaya percaya diri di mata Gaby kembali bersinar. Dari dulu ia tahu dirinya kuat dan ia mampu membuat semua orang tunduk padanya. Tidak ada pengecualian. Mortis juga harus demikian. Ia akan membuat bocah iseng yang kejam itu menyesal telah mengajaknya ke permainan ini.
Dengan langkah yakin, Gaby kemudian berlari. Jika ia akan melawan Mortis, ia harus mencari senjata atau apapun yang bisa dijadikan senjata. Ia akan membunuh Mortis sebelum bajingan itu membunuhnya. Dalam pikiran itu, Gaby berlari dengan senyuman lebar.
***

Selasa, 25 November 2014

School Game : Interlude III

Interlude: ARTHA


Dunia sudah berubah di mata Artha. Dahulu semuanya berwarna-warni seperti pelangi, penuh senyuman dan pujian bangga dari orang-orang di sekelilingnya. Namun, sekarang senyuman itu berganti dengan alis merengut dan pujian berganti dengan cacian. Orang tuanya memandang dengan sinis dan bahkan kakaknya mengatakan semua usahanya kurang. Hanya karena prestasinya di SMA ini menurun, hanya karena ia bukan juara umum di SMA ini.
Lama-lama beban yang disampirkan di pundaknya terasa berat untuk ia pikul. Rasa sakit itu semakin membesar dari hari ke hari dan bahkan membuatnya malas untuk pulang ke rumah. Bahkan menginjak keset di depan pintu depan rumah terasa menjijikkan dan berlendir. Untunglah ia mempunyai biola-nya, yang alunan merdu-nya dapat menyejukkan hatinya, membuatnya melupakan caci maki itu.
Artha mengenal biola semenjak kecil. Seorang paman yang ramah dengan senyum menawan memberikannya sebagai hadiah ketika ia menjadi anak baik untuknya. Ia masih ingat bagaimana paman itu membelainya dan mengecupnya lembut sebelum paman itu memberikan biola itu kepadanya. Dan, setiap paman itu selesai mengelus seluruh tubuhnya, paman itu akan mengajarkannya cara bermain biola. Semenjak itulah biola itu menjadi sahabatnya.

Selasa, 11 November 2014

School Game : Chapter 5

Wound

Dengan cell phone di tangannya untuk menyinari jalan, Ezky berjalan perlahan-lahan, diikuti oleh Lena dan Sinta yang berjalan mengikutinya dari belakang. Sesekali Ezky menyinari jendela agar ia tahu ada apa di luar, yang masih tetap sama setiap kali ia mengarahkan cahaya dari cell phone-nya. Di luar hanya ada lapangan basket kosong yang sunyi, tidak terlihat apapun yang bergerak. Jika memang pembunuh itu dapat menembak mereka apabila mereka mencoba keluar maka semestinya pembunuh itu akan mengawasi dari luar. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan di luar sekolah.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, sudah berlalu lebih dari 2 jam setelah Mortis menyatakan permainan keji-nya ini telah dimulai. Hal yang disadari Sinta sedikit menguntungkan karena mungkin orang tua-nya akan mulai mencarinya. “Iya, kan? Jika orang tua-ku menyadari aku belum pulang, mereka mungkin akan mulai mencariku. Dan, kita bisa selamat dari perangkap ini!” serunya dengan senyum riang yang dibuat-buat.
Ezky dan Lena saling bertatapan, lalu Lena berkata, “Aku kagumi semangatmu, tapi semestinya kau berharap orang tua-mu tidak akan kemari untuk mencarimu.” Ada jeda beberapa detik sebelum ia melanjutkan, “Aku takut jika orang tua-mu kemari Mortis juga akan membunuh mereka. Menimbang apa yang baru saja terjadi dengan Resta dan Loly, kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya.” Lena menatap Sinta dengan sorot mata sedih sementara mata Sinta mulai berkaca-kaca.